Kementerian Agama mengimbau para penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) untuk menggunakan maskapai penerbangna berjadwal untuk menjamin kepastian terbang bagi para jamaahnya.

“Jangan mengambil risiko. Sebaiknya menggunakan maskapai berjadwal, daripada yang sistem sewa atau charter,” ujar Kasubdit Pembinaan Umrah Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama M Arfi Hatim kepada media, akhir pekan lalu.

Dengan memilih penerbangan reguler atau berjadwal,  menurut Arfi, kepastian keberangkatan dan kepulangan jamaah lebih terjamin. Kasus tertunda berangkat dan kepulangan ratusan jamaah Indonesia yang terjadi saat ini karena jamaah menggunakan maskapai charter.

Setelah akhir pecan lalu 102 jamaah yang sempat tertahan berhari-hari di Jeddah karena masalah penerangan, kini muncul kasus serupa. Kementerian Agama (Kemenag) menerima laporan sedikitnya 900 jamaah umrah kembali tertahan di Jeddah.

Dia mengatakan kasus tertahannya kepulangan 900 orang jamaah itu berbeda dengan rombongan 102 jamaah sebelumnya. “Proses pemulangan yang 102 jamaah masih berlangsung,” kata Arfi.

Arfi mengatakan dari rombongan yang 102 jamaah itu, 32 orang sudah pulang ke Tanah Air. Sisanya saat ini tinggal 70 orang dan rencananya dipulangkan ke Indonesia pada 9 Januari nanti. Arfi menegaskan 70 orang ini sudah mendapatkan kepastian tiket pulang menggunakan maskapai Lion Air pada 9 Januari pukul 21.35 waktu Jeddah.

Kasus yang lebih besar berikutnya adalah tertundanya 900 orang jamaah umrah. “Saya belum bisa pastikan itu dari satu perusahaan travel umrah atau beda-beda,” jelasnya. Intinya, Arfi mengatakan seluruh jamaah itu menggunakan maskapai Flynas untuk perjalanan umrahnya.

Arfi menceritakan masalah muncul karena Flynas sudah menghentikan layanan penerbangan umrah untuk Indonesia pada 31 Desember 2016. Sementara itu, ada jamaah umrah yang terbang ke Saudi mendekati pergantian tahun. Sehingga jadwal mereka di Saudi sampai awal Januari.

“Akibatnya, 900 orang itu tertahan kepulangannya. Sebab, tidak ada pesawat sewa untuk pulang,” tuturnya. Arfi menjelaskan maskapai Flynas menggunakan sistem charter atau sewa dalam melayani angkutan umrah. Mereka berkongsi dengan perusahaan bernama Lofty Crest untuk melayani umrah jamaah Indonesia.

Pada perjalanannya ada masalah keuangan antara Lofty Crest dengan Flynas. Sehingga secara sepihak, Flynas memutus hubungan kerja sama dengan Lofty Crest. Seluruh penumpang yang rencana pulang menggunakan pesawat Flynas, menjadi urusan Lofty Crest.

Arfi menjelaskan terus memantau perkembangan pemulangan 900 jamaah umrah itu. Informasi terkini, 113 orang di antaranya sudah mendapatkan kepastian pulang. Dia menjelaskan pemulangan jamaah umrah sebanyak itu harus dilayani dengan pesawat sewa. Cukup kesulitan jika dipencar mencari seatkosong pesawat reguler.

Sumber : Kabarumrahhhaji.com

Advertisements